Lintas-lalu-ku

Sudah puas aku meluah
Tak kan ku pinta engkau berubah
Tak kan ku rayu walau dikerah
Tak kan ku rebah walau dipecah-belah
Tak kan ku tunduk walau dipatah
Puasku menahan segala lelah
Jujur ikhlasku kau buat endah

Sepertinya aku tak punya rasa
Sepertinya kita tak pernah bersama
Sepertinya dunia tak mengenal apa
Sepertinya cinta tak pernah ada

Biarkan waktu menghempap aku
Biarkan jasadku mati tertipu
Biarkan hatiku sakit diburu
Biarkan senyumku bersulam palsu
Biarkan nafasku bertunas pilu

Kerna kau cuma suatu yang dulu
Kerna kau cuma lintas lalu-ku.

Mergastua

Mereka itu bagaikan sekawan mergastua yang bebas bercicipan,
'Kan tiba musim ia datang membuat bising;
-- lalu hilang diterbangkan angin.

Itu resam dan takdir, sayang.
Kita tidak pernah menanamkan apa-apa.
Kita tidak akan rugi apa-apa.

Yang ada cuma;
-- Akur dan izin.

Terusir

Di penghujung itu kau datang
Membawa karangan kembang;
Mawar Merah dah Melati Putih
Lambang darah dan kesucian 

Kau tebarkan didepanku
Serta satu pandangan yang begitu tajam;
menusuk ke seluruh pelosok hati.

Sesudah itu kita terpelosok termangu.
Dalam tanda itu kita saling bertukar tanya;
Apakah ini? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita kekal bersama
Tidak terlalu hampir - dalam menghampiri

Ah! Jurang itu terlalu tinggi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Aku tak bisa meloloskan diri.


- Inspired by Chairil dalam puisi 'Sia-sia'.