Terusir

Di penghujung itu kau datang
Membawa karangan kembang;
Mawar Merah dah Melati Putih
Lambang darah dan kesucian 

Kau tebarkan didepanku
Serta satu pandangan yang begitu tajam;
menusuk ke seluruh pelosok hati.

Sesudah itu kita terpelosok termangu.
Dalam tanda itu kita saling bertukar tanya;
Apakah ini? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita kekal bersama
Tidak terlalu hampir - dalam menghampiri

Ah! Jurang itu terlalu tinggi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Aku tak bisa meloloskan diri.


- Inspired by Chairil dalam puisi 'Sia-sia'.

No comments: