Sabda Rindu

Aku kira ia bermula daripada satu, dua, tiga hingga lapan kesemuanya.
Terlalu lama rasanya purnama demi purnama berlalu;
Hingga setiap kata yang terucap
walau dalam selitan kota yang maha gila,
-- Terlalu mahal harganya.

Setelah kau puas bertanya-tanya dalam satu penantian yang tidak pasti;
Lihat, tanda-tanya itu.
Di atas garis halus yang memisahkan antara dua bendera yang berpaksikan janji,
Dan jurang yang memisahkan kita;
Terlalu indah, tak mampu ku tawani.

Namun rapat rapi gigi di sebalik senyuman itu terlalu kukuh;
Ah! Aku tak bisa meloloskan diri.





Untuk Orang Kerdil

Di dalam dunia kita yang kerdil ini;
Ada sosok tubuh yang melumpuh, kesakitan.
Ada gelandangan yang memeluk tubuh, kesejukan.
Ada tangisan yang berduka lara, kehilangan.
Ada dosa yang terapung-apung dalam gelap, di awangan.
Ada janji yang masih terikat ketat, dalam ingatan.

Juga dalam dunia ini;
Ada perkara yang tak mampu dikawal dan disangkal akal.
Ada rahsia terpendam yang tak mampu dihadam dan difaham.
Ada masa-masa silam yang berlalu laju dan tak mampu dikembalikan.
Ada rasa yang tersembunyi dan tak pernah mampu diluahkan.
Ada cinta yang terlalu agung dan tak termampu untuk dipulangkan.

Kita ini orang kerdil,
Yang jalan-nya sempit.
Yang peluang-nya sikit.
Yang tangan-nya kecil.
Kita tidak mampu berbuat apa-apa.
Kita ini bukan siapa-siapa.
Kita hanya
-- Sa-orang kerdil yang sakit.
Yang hanya bisa dipulihkan;
Atas nama Tuhan.



Sa-purnama

Terlalu lama purnama demi purnama berlalu,
Hingga tiga-puluh-tiga minit
dan enam-belas saat itu terasa begitu bernyawa.

Setiap detik, saat, nafas dan detak dentum itu menghitung.
Sepantas mana pun berlari tetap tidak ter-hitung.
Tidak ada talian hayat hari ini.
Tidak ada tabung oksigen menanti.

Ah, separa mati.

Pakar

Aku kira sampai waktunya nanti
kita sama-sama bisa mengembara;
sambil kuputarkan lagu-lagu rock n' roll di corong radio;
dan ketukan jari pada nada yang menuju kehidupan.

Masih kita mengenang kenangan yang mengusik hati kecilku
Lampu neon dan kelip-kelip yang pernah kau hadiahkan
Juga patung biru sempena tipu helah yang telah kita lakukan dengan jayanya;
Penipuan yang tidak mampu disangkal akal.

Masih kita mengenang kenangan yang begitu lucu
Bila ter-tumpahnya kopi susu di buku kegemaranku;
Dan begitulah amarah yang tidak mampu tersimpan
Begitu gagal, kerap mati ditelan tawa yang nakal.

Jenaka-jenaka kita yang tak masuk dek akal
Gelak-tawa kita yang tak lekang di bibir
Liburan di jalanan,
Meriuh di pesta keramaian.

Dan perjalanan itu adalah bukti
--- Kepakaran kita berhibur tanpa saksi.



Sabtu, 26 November 2016.
Serdang.